Oleh Rosadi Jamani*
ORBITBARU.COM – Tradisi Ngantar Ajong sudah ada sejak saya kecil dulu. Waktu SMP, ada guru melarang menonton tradisi itu, karena dianggap sirik. Saya pun tak berani menonton.
Lama saya meninggalkan kampung, tradisi itu masih ada. Ternyata, debat tentang sirik itu justru makin panas sekarang ini.
Pro kontra tak terhindarkan membuat seminggu ini warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat pun panas.
Di Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, ada sebuah tradisi bernama Ngantar Ajong atau Antar Ajong.
Tradisi ini sudah hidup turun-temurun di tengah masyarakat Melayu Sambas dan sampai hari ini masih terus dilaksanakan. Fungsinya bukan sekadar acara kumpul-kumpul atau festival tahunan.
Bagi masyarakat setempat, Ngantar Ajong adalah ritual tolak bala sekaligus doa untuk musim tanam padi agar terhindar dari hama, penyakit tanaman, dan berbagai gangguan yang dipercaya dapat merusak hasil panen.
Simbol utama tradisi ini adalah Ajong, sebuah perahu kecil yang biasanya dicat kuning. Perahu itu bukan kapal pesiar miliarder, bukan juga kapal perang.
Namun anehnya, benda kecil ini mampu menghasilkan perdebatan yang lebih panjang daripada antrean minyak goreng zaman langka.
Proses Ngantar Ajong memiliki beberapa tahapan penting. Pertama adalah musyawarah warga dan pembuatan Ajong. Setelah itu masuk ke tahap inti yang disebut Besiak. Ritual ini biasanya dikerjakan malam hari.
Dalam tradisi lama, pawang atau dukun mengalami kerasukan roh, kemudian memanggil dan “menangkap” roh-roh jahat untuk dimasukkan ke dalam Ajong. Acara tersebut diiringi tarian Raddad, tabuhan gendang, gong, rebana, serta pembacaan mantra-mantra.
Setelah semua tahapan selesai, Ajong dihanyutkan ke laut melalui Pantai Terabitan atau Muara Indah Arung Parak. Filosofinya sederhana. Segala kesialan, roh jahat, gangguan, dan hama diharapkan ikut berlayar jauh meninggalkan kampung sehingga musim tanam berikutnya berjalan lancar dan hasil panen melimpah.
Sampai di sini biasanya warga santai saja. Yang mulai ribut justru netizen.
Setiap musim Ngantar Ajong tiba, Facebook, Instagram, TikTok, grup WhatsApp, dan grup-grup lokal Sambas berubah menjadi arena pertandingan tinju komentar.
Ada yang memuji tradisi ini sebagai warisan budaya Melayu Sambas yang luar biasa. Ada pula yang langsung mengetik tiga kata paling terkenal di dunia maya: “Itu sirik, wak.”
Kelompok yang mengkritik biasanya menyoroti ritual Besiak, kerasukan roh, pemanggilan makhluk halus, dan penggunaan sesajen berupa makanan yang dulu ditempatkan di dalam Ajong.
Menurut mereka, unsur-unsur tersebut adalah bentuk permintaan kepada selain Allah sehingga masuk kategori sirik. Komentar seperti “zaman sekarang harus dibersihkan dari unsur gaib” hampir selalu muncul setiap tahun.
Namun ada satu hal yang menarik. Sebagian besar kritik keras itu biasanya terdengar di media sosial. Di kolom komentar mereka seperti singa. Tulisannya panjang, tegas, kadang seperti hendak merevisi sejarah Nusantara. Tetapi ketika warga setempat mengundang mereka datang langsung ke Arung Parak untuk berdiskusi, berdakwah, atau menjelaskan pandangan mereka kepada masyarakat, yang datang justru biasanya wisatawan, pedagang, fotografer, dan penonton acara.
Oleh karena itu, tuduhan sirik yang ramai di internet tidak banyak memengaruhi masyarakat Arung Parak, Tangaran, maupun Paloh. Mereka tetap melihat Ngantar Ajong sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Apalagi banyak warga mengakui bahwa pelaksanaan sekarang sudah berbeda dibanding masa lalu.
Versi lama yang penuh sesajen dan nuansa animisme memang pernah ada dan masih menjadi bagian sejarah tradisi ini. Namun dalam perkembangannya, banyak panitia telah memodifikasi pelaksanaan Ngantar Ajong. Unsur sesajen dikurangi bahkan dihilangkan di beberapa tempat, sementara aspek doa bersama, gotong royong, silaturahmi, dan festival budaya lebih ditonjolkan.
Pemerintah Kabupaten Sambas sendiri, termasuk Wakil Bupati, juga aktif mendukung pelestarian Ngantar Ajong sebagai kearifan lokal dan potensi pariwisata daerah. Sebab di balik perdebatan tentang syirik, ada fakta ekonomi yang sulit dibantah.
Ketika Ngantar Ajong digelar, ribuan orang datang dari berbagai daerah. Pantai dipenuhi pengunjung. Pedagang makanan dan minuman berjejer panjang seperti sedang membuka cabang pasar malam terbesar di pesisir. Area parkir penuh sesak. Penjual suvenir, mainan anak, kopi, es, hingga gorengan ikut menikmati berkah ekonomi dari acara tersebut.
Jika tradisi ini hilang sepenuhnya, dampaknya bukan hanya pada budaya. Desa juga berpotensi kehilangan momentum ekonomi tahunan yang selama ini menggerakkan usaha kecil masyarakat. Lapangan usaha musiman menyempit, kunjungan wisata berkurang, dan identitas budaya yang telah melekat selama ratusan tahun bisa perlahan memudar.
Ngantar Ajong juga bukan satu-satunya tradisi yang menuai kontroversi.
Di pantai utara Jawa ada Sedekah Laut atau Larungan yang menghanyutkan sesajen, kepala kerbau, dan hasil bumi ke laut.
Ada pula Ruwatan atau Rokatan yang dilaksanakan untuk membebaskan seseorang dari nasib buruk melalui wayang, sesaji, dan ritual tertentu.
Tradisi Sedekah Bumi, Bersih Desa, Tulak Bala di Aceh Barat dan beberapa daerah di Sumatra, sampai praktik sesajen di gunung, pohon keramat, atau makam juga sering mendapat kritik serupa.
Semua tradisi itu memiliki pola yang hampir sama, akar animisme dan Hindu-Buddha yang kemudian bercampur dengan Islam, lalu berhadapan dengan perdebatan panjang antara pelestarian budaya dan pemurnian akidah.
Sampai hari ini, Ngantar Ajong tetap berdiri di tengah dua gelombang besar tersebut.
Di satu sisi ada mereka yang ingin menjaga warisan budaya Melayu Sambas. Di sisi lain ada mereka yang mengkritik unsur-unsur tertentu dari sudut pandang agama. Perdebatan itu mungkin tidak akan pernah selesai.
Tetapi satu hal yang pasti, selama warga Arung Parak masih membuat Ajong, selama ribuan orang masih datang menonton, dan selama netizen masih memiliki kuota internet, tradisi ini akan terus hidup, di pantai, dan di kampung.
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
