Oleh Rosadi Jamani*
ORBITBARU.COM – Hari ini umat Islam di seluruh dunia memasuki 1 Muharram.
Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar pergantian angka di kalender.
Padahal kalau ditelusuri, lahirnya kalender hijriah adalah salah satu kisah administrasi paling epik dalam sejarah manusia. Ini bukan cuma soal bulan baru, tetapi soal bagaimana sebuah peradaban yang sedang melesat dari gurun pasir berhasil menciptakan sistem yang rapi ketika sebagian kerajaan lain masih sibuk berantem rebutan takhta.
Di balik kisah itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul seperti komentar netizen yang datang tanpa diundang.
Kalau kalender hijriah baru resmi ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 638 masehi atau 17 hijriah, bagaimana mungkin hadis Nabi Muhammad SAW yang wafat tahun 632 masehi sudah menyebut Ramadhan, Syawal, Muharram, Zulhijah, dan bulan-bulan lainnya?
Tenang. Ini bukan konspirasi lintas dimensi. Bukan juga karena para sahabat punya mesin waktu edisi premium. Jawabannya sederhana. Nama bulan sudah ada sejak lama. Yang belum ada adalah nomor tahunnya.
Ibarat sekarang kita sudah punya nama jalan, tetapi belum ada nomor rumah. Alamatnya ada, kurirnya yang stres.
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab sudah menggunakan nama-nama bulan yang kita kenal sekarang. Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah bukanlah produk rapat mendadak setelah hijrah. Nama-nama itu sudah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Muharram berarti bulan yang dihormati, bulan ketika perang dilarang. Safar berkaitan dengan keadaan menguning. Ramadhan berasal dari kata ramadha, panas yang membakar. Syawal diambil dari perilaku unta betina yang mengangkat ekornya. Sedangkan Zulhijah adalah bulan ibadah haji.
Ketika Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berpuasalah ketika melihat bulan Ramadhan dan berbukalah ketika melihat bulan Syawal,” para sahabat langsung paham. Tidak ada yang bertanya, “Ramadhan yang mana, Pak? Versi update atau versi beta?”
Yang belum ada waktu itu adalah angka tahunnya. Nah, di sinilah bagian yang bikin ngakak kalau dibayangkan diterapkan sekarang.
Bangsa Arab kala itu menamai tahun berdasarkan peristiwa besar yang terjadi. Ada Tahun Gajah ketika pasukan Abrahah datang menyerang Ka’bah. Ada Tahun Duka saat Khadijah dan Abu Thalib wafat. Ada Tahun Perpisahan saat Haji Wada’.
Bayangkan sistem ini dipakai di zaman modern.
“Kapan nuan lahir?”
“Saya lahir saat H Dadan cs ditangkap, wak.”
“Masuk kuliah tahun berapa, wak?”
“Tahun saat listrik di Pulau Sumatra blackout.”
“Akang menikah kapan?”
“Tahun Bupati Pati ditangkap KPK”
Arsip negara bisa berubah menjadi lomba tebak-tebakan. Awalnya sistem ini tidak masalah. Masalah muncul ketika wilayah Islam berkembang sangat cepat. Dari Jazirah Arab, pengaruh Islam menjalar ke Persia, Syam, Mesir, dan berbagai wilayah lain. Surat-menyurat antarprovinsi makin ramai.
Lalu datanglah momen yang bisa disebut sebagai “krisis administrasi nasional.” Gubernur Persia, Abu Musa al-Asy’ari, mengirim surat kepada Umar bin Khattab. Keluhannya sederhana tetapi mematikan. Ia menerima surat yang hanya bertuliskan bulan Syakban. Selesai. Tidak ada tahun.
Ente bayangkan menerima surat resmi negara yang isinya seperti ini. “Rapat akan dilaksanakan pada bulan Syakban.” Syakban yang mana? Syakban tahun ini? Syakban tahun lalu? Atau Syakban ketika dinosaurus ingin menikmati malam Jumat?
Masalah ini membuat Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat besar. Hadir tokoh-tokoh kelas berat seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya.
Kalau sekarang mungkin setara rapat kabinet yang benar-benar fokus bekerja, bukan rapat yang hasilnya hanya foto bersama dan kalimat sakti “akan dikaji lebih lanjut.”
Muncullah berbagai usulan. Ada yang mengusulkan kalender dimulai dari kelahiran Nabi. Ada yang mengusulkan dari masa kenabian. Ada yang mengusulkan dari wafat Nabi. Lalu Ali bin Abi Thalib mengusulkan sesuatu yang brilian, jadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal.
Semua langsung melihat logikanya. Hijrah bukan sekadar pindah alamat. Hijrah adalah momen ketika umat Islam bertransformasi dari kelompok yang tertindas menjadi masyarakat yang memiliki kedaulatan, hukum, pemerintahan, dan masa depan.
Namun drama belum selesai. Hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal. Lalu kenapa tahun baru Islam dimulai pada Muharram?
Ini seperti memulai film dari bab yang berbeda.
Ternyata para sahabat punya alasan kuat. Muharram datang setelah Zulhijah, bulan haji yang menjadi puncak ibadah tahunan. Selain itu, persiapan hijrah secara politik dan sosial sudah matang sejak Baiat Aqabah pada Zulhijah. Muharram menjadi gerbang logis menuju fase baru peradaban Islam. Ditambah lagi Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci yang dimuliakan Allah.
Akhirnya diputuskan bahwa 1 Muharram tahun 1 hijriah bertepatan dengan 16 Juli 622 masehi menurut kalender Julian. Sejak saat itu lahirlah kalender hijriah.
Menariknya, Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah menyebut istilah 2 hijriah, 5 hijriah, atau 8 hijriah. Yang disebut adalah peristiwa-peristiwa seperti setelah hijrah, tahun penaklukan Mekah, atau tahun Haji Wada’.
Angka-angka hijriah yang kita gunakan sekarang merupakan hasil ijtihad para sahabat dan kerja ilmiah para ulama serta sejarawan yang menyusun kronologi secara teliti.
Jadi tidak ada kontradiksi sama sekali. Nama bulan sudah ada sejak lama. Nomor tahun datang belakangan sebagai inovasi administrasi.
Ironisnya, para sahabat di abad ke-7 saja sudah sadar, dokumen negara harus memiliki tanggal jelas agar tidak menimbulkan kekacauan. Sementara di abad ke-21 masih ada pejabat yang kalau ditanya janji kampanye menjawab, “Nanti kita evaluasi dulu.”
Oleh karena itulah, Tahun Baru Islam sesungguhnya bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah monumen kecerdasan peradaban. Bukti bahwa umat Islam tidak hanya membangun masjid dan menulis hadis, tetapi juga membangun sistem administrasi yang membuat negara berjalan rapi.
Maka ketika 1 Muharram tiba, jangan cuma sibuk membuat status “Happy Islamic New Year” sambil rebahan seperti pangeran gurun kehilangan unta.
Ingatlah, hijrah adalah keberanian meninggalkan yang buruk menuju yang lebih baik. Jangan ke balik pula, wak.
Selamat merayakan 1 Muharram. Semoga tahun baru ini membawa keberkahan, dan semoga hidup kita lebih teratur dari arsip surat sebelum kalender Hijriah ditemukan.***
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
