Oleh Rosadi Jamani*
ORBITBARU.COM – Budak Pontianak, Kalimantan Barat ini, sangat ngefans dengan Rocky Gerung. Saking ngefans-nya ia menamakan bandnya dengan Rocky Gerung Band.
Rocky Gerung, tokoh paling kritis di negeri ini. Mulutnye tajam, logikanya dingin, kalimatnya sering bikin dahi berkerut dan kopi mendadak hambar.
Orang kritis memang selalu punya dua hal, musuh dan fans. Fans-nye banyak, wak. Salah satunye? Bang Wi dari Pontianak ini.
Di tengah dunia seni yang makin hari makin sensitif, salah dikit viral, bener dikit dibantah, lahirlah satu band yang bukan hanya main nada, tetapi main logika, Rocky Gerung Band.
Ini bukan band cari panggung, tetapi band cari akal sehat yang hilang entah ke mana.
Otak di baliknya satu orang, bang Wi alias bang Dwi alias DAP, Dwi Agus Prianto. Namanya Jawa, bapak Dayak, emak Arab, lahir Pontianak.
Kalau identitas ini dibikin bagan, bisa bikin pusing petugas sensus. Tapi justru dari ketidakjelasan itu lahir kejelasan sikap, kritis, nyinyir, tapi tetap pakai senyum.
Kenapa pakai nama Rocky Gerung Band?
Karena bang Wi ini pengagum garis keras pemikiran Rocky Gerung.
Menurutnya, Rocky kalau ngomong itu isinya padat, tajam, tetapi berat. Tidak semua orang bisa langsung paham. Beratnya macam gajah gendong badak, wak. Yang kuat mikir, yang dak kuat bilang ribut.
Nah, di situlah niat band ini muncul, menurunkan kritik kelas berat ke telinga rakyat jelata lewat musik. Yang biasanya cuma nyampe ke studio TV dan ruang diskusi, dibawa ke warung kopi, ke headset murah, ke telinga orang yang ngopi sambil bengong.
Judul lagu-lagunya pun tidak main aman: Dungu, Negeri Wakanda, No Rocky No Party, Tom Lembong, dan yang paling bikin orang senyum kecut, Fufufafa. Ini bukan mantra, wak. Ini simbol.
Tentang Fufufafa, bang Wi ini memang jahil. Istilah absurd ini mengingatkan kita pada gaya Panji Pragiwaksono, yang pernah menggunakan “Fufufafa” dalam salah satu segmen komedinya. Mirip? Iya. Sengaja? Kemungkinan besar. Fungsinya sama, satire dan parodi terhadap gaya bicara dan narasi tertentu yang sering muter-muter tapi kosong.
Meski kedengarannya absurd, Fufufafa justru jadi simbol kritik. Absurd tetapi kena. Lucu tetapi nyelekit. Gaya kritik yang menggabungkan ketidakmasukakalan dengan sindiran sosial. Ketawa dulu, mikir belakangan. Persis gaya Panji, persis jugak semangat lagu bang Wi ini.
Inspirasi lagunya? Dari tulisan-tulisan Fufufafa di Kaskus. Ada satu kisah legendaris, Prabowo mendaki Semeru, kibarkan bendera, teriak ke kekasih, turun menggelinding cam landak, lapar, beli jagung bakar. Orang lain baca ketawa, bang Wi baca terus mikir, “ini kalau tidak dijadikan lagu, sayang.” Maka jadilah Fufufafa versi musik: meriang, absurd, tetapi nagih.
Lucunya lagi, pas Slank di Jakarta baru merilis lagu Negeri Fufufafa, Pontianak sudah senyum-senyum. Kawan saya ni memang hobi menimbulkan batang tenggelam. Yang orang lain mau lupakan, dia putar ulang dengan gitar.
Bang Wi bilang santai, lagu Fufufafa ini bukan cuma nemenin Slank, tetapi jugak nemenin Panji Pragiwaksono di tengah badai serangan politik. Musik jadi tameng, satire jadi jaket hujan, logika jadi payung bocor tetapi tetap dipakai.
Rocky Gerung Band ini one man band. Dia menulis, dia menyanyi, dia berpikir, dia juga yang siap disalahpahami. Tetapi di negeri ini, wak, disalahpahami itu risiko profesi bagi orang yang masih mau mikir.***
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat
