Memelihara harapan di tengah kesulitan

6 Juni 2026, 09:49 WIB
0 Komentar

Oleh Hendry Ch Bangun*

ORBITBARU.COM – Bagaimana tingkat optimisme dalam diri Anda hari ini?

Semangat saya sendiri kadang naik, tetapi lebih sering turun.

Sebagai wartawan yang banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat, memantau media sosial, melihat karya jurnalistik khususnya media siber, terus terang kegelisahan saya sangat tinggi.

Bahwa kehidupan pers secara umum makin berkurangnya daya tahannya, semua orang sudah tahu. Sudah terjadi bertahun-tahun, tanpa terlihat ada perbaikan.

Masyarakat pers berusaha mencari jalan keluar melalui usulan kepada pemerintah yang berakhir dengan lahirnya KTP2JB (Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas).

Lembaga di bawah Dewan Pers tersebut bertujuan agar pers bisa mendapat “sedikit” rezeki dari platform global, malah akhirnya seperti menemui tembok batu ketika Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) bulan Februari 2026, hanya seminggu setelah hari pers nasional.

Betapa ironi. Sudah KTP2JB dianggap too little too late, eh tidak diperhatikan pula oleh pemerintah.

Ada inisiatif lain agar produk jurnalistik yang didapat dengan modal besar, tenaga kerja professional bergaji, kesulitan di lapangan, hambatan langsung dan tak langsung, ancaman kekerasan, upaya menjaga standar kode etik, diambil oleh platform global.

Tetapi sudah bisa diduga, meski dibantu Kementerian Hukum, tetap saja, rezeki yang menetes ke perusahaan pers kita akan amat sangat kecil, selain sulit diperoleh. Sulit menopang kerja organisasi yang melahirkan produk jurnalistik yang bermutu.

Yang menyedihkan, dalam situasi seperti itu, tidak ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk memelihara pers. Tidak ada upaya pemerintah untuk melihat bahwa pers sekarang telah masuk ke tahap gawat darurat.

Yang ada hanya tuntutan-tuntutan kepada pers, yang tiada subsidi.

Pers dituntut harus membela kepentingan bangsa dan negara. Harus mendukung program pemerintah. Harus berisi pesan positif. Harus memahami kerja keras penyelenggara negara yang ingin menciptakan kemakmuran bagi rakyat.

Saya berpikir, yang berbicara ini mengerti tidak duduk persoalannya?

Tidak memberi tetapi meminta terus. Sudah dibatasi, dituntut pula untuk menyokong tanpa reserve. Sudah dikerjai dengan kekerasan dalam berbagai bentuk, eh diharapkan selalu melihat dengan kacamata positif.

Apakah dunia mereka sudah segila itu?

Cuci muka dulu deh, kalau mau meminta pers membantu.

Pandang cermin baik-baik. Pikirkan bagaimana kehidupan pekerja pers yang sekarang ini sudah seperti kata pepatah. Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Masih mencoba bekerja dengan sungguh-sungguh karena menilai profesi wartawan yang disandangnya adalah mulia dan karena itu harus dipertahankan meski kepala pusing karena gaji kurang dan sensor diri dan pembatasan dari pimpinan.

Mereka yang putus asa, dan itu banyak, akhirnya terjerumus kepada situasi mental yang pasrah.

Daripada melawan dan mendapat kesulitan, ya nikmati saja fasilitas yang disediakan. Tidak usah dipikirkan apa dan bagaimana ke depan.

Padahal ini ancaman nyata bagi bangsa Indonesia. Kalau para profesional sudah pragmatis dan kehilangan idealisme, inisiatif, dan keinginan untuk menjadi pers kritis dan meluruskan yang bengkok, mengingatkan penyelenggara yang lupa dan seenaknya, akan mati.

Dan setelah itu tidak perlu lagi bicara tentang pers sebagai pilar keempat demokrasi.

Apakah lalu putus asa?

Kepada beberapa teman saya kerap mengatakan, dalam kondisi seperti itu, kita harus tetap memelihara harapan, mempertahankan optimisme.

Para pekerja persperlu untuk menenangkan hati sendiri. Bekerja tulus untuk nama baik dan kehormatan keluarga, dan institusi kita bekerja, seburuk apapun keadaannya.

Ada baiknya kita mengenang jalan terjal dan penuh duri yang dialami tokoh pers seperti HOS Tjokro Aminoto, Burhanudin M Diah, Tirto Adhi Suryo yang senantiasa menyebarkan di tengah kesulitan mereka.

Kita harus yakin bahwa produk jurnalistik yang setia pada etika, menjunjung tinggi norma-norma, akurat dan tidak berprasangka, akan tetap menjadi acuan ketika jutaan informasi berlimpah hanya membuat bingung.

Tentu kita berharap masyarakat sipil semakin tergerak untuk menghidup-hidupi  pers yang masih sekarat.

Berharap kepada pemerintah dan parlemen, ya boleh saja, tetapi anggap itu sebagai keajaiban yang bisa datang dan bisa juga tidak.

Banyak tantangan tetapi juga masih ada banyak harapan kalau semua yakin bahwa pers adalah betul-betul pilar sebuah negara demokrasi.

Rasa optimisme penting untuk memelihara kesehatan jiwa wartawan dan pekerja pers.

Saya ingat salah satu kalimat yang disampaikan katib ketika salat Jumat di kantor PBB di New York, Amerika di sela meliput turnamen grandslam Agustus 1991.

“Tanamlah pohon meski besok akan kiamat,” katanya mengutip habis Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan optimisme apapun yang akan terjadi.***

*Hendry Ch Bangun ialah wartawan senior dan pendiri Forum Wartawan Kebangsaan (FWK)

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Terkait