Loyalis Anies Baswedan Geisz Chalifah ungkap masa kecil bersama Rano Karno

27 Februari 2026, 03:39 WIB
0 Komentar

ORBITBARU.COM – Loyalis Anies Baswedan Geisz Chalifah mengungkap masa kecilnya bersama Wakil Gubernur Rano Karno di Jakarta tempo dulu.

Melalui akun instagramnya @geisz_chalifah, ia yang sedang menjalani ibadah umrah terlihat bersama Rano Karno mengenakan pakaian ihram.

Ia bercerita bahwa ia dan Rano adalah dua anak kecil yang senang bermain sepak bola bersama di lapangan di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

“Kami dulu hanya dua anak kecil yang mengejar bola di lapangan sederhana. Rumah tak berjauhan. Ia di Kepu; saya di Letjen Suprapto, Poncol Senen.”

“Tak ada yang istimewa. Hanya debu, keringat, dan teriakan kecil yang merasa dunia selebar lapangan bola.”

“Lalu waktu bekerja diam diam.”

“Kami terpisah. Ia menjelma wajah di layar lebar. Film-filmnya memenuhi bioskop. Namanya, diteriakkan remaja. Dia di SMA 6 Blok M, saya di SMA 7 Gambir.”

“Saya menonton semua filmnya. Diam saja. Tak pernah berkata pada siapa pun, itu teman gue. Tak perlu. Persahabatan masa kecil tak butuh pengumuman.”

“Puluhan tahun kemudian kami dipertemukan dalam sebuah acara televisi. Saya tak basa-basi.”

“Lu lupa sama gue?”

“Ia menatap; mencari di ingatannya. Wajar. Waktu terlalu panjang untuk diingat begitu saja.”

“Saya bantu, kita pernah main bola bareng di MBFA.”

“Masya Allah, suaranya pecah. Kami tertawa. Lapangan itu tiba-tiba hadir lagi di antara kami. Kepu. Senen. Masa kecil yang tak pernah benar-benar pergi.”

“Kini kami bertemu bukan di lapangan, tapi di Tanah Suci. Bukan lagi mengejar bola, tetapi mengejar ampunan.”

“Umrah bersama membuat kami sadar, hidup ini bukan tentang siapa yang lebih dikenal, siapa yang lebih bersinar, siapa yang lebih dipanggil ke panggung.”

“Semua itu pernah terasa penting.”

“Di hadapan Kabah, semua nama kembali menjadi hamba. Semua gelar gugur bersama kain ihram yang sederhana.”

“Anak Blok M dan anak Gambir umrah bareng.”

“Dulu kami mengejar gol. Hari ini kami mengejar ridha Allah.”

“Dan, itu jauh lebih sunyi, sekaligus jauh lebih berarti.”***

Terkait