Rosadi Jamani*
ORBITBARU.COM – Ada peristiwa yang membuat penggemar Cristiano Ronaldo mendadak pegang kepala seribu penyesalan.
Portugal yang menguasai bola sampai 75 persen permainan, ternyata cuma mampu bermain imbang 1-1 melawan Kongo di pertandingan Grup K Piala Dunia di NRG Stadium, Houston.
Portugal seperti pendekar sakti membawa Jurus Naga Langit 18 Tingkat, tetapi gagal mengalahkan penjaga pos ronda yang lagi duduk santai sambil ngopi.
Berbekal peringkat 5 FIFA datang tampil percaya diri tinggi. Kongo di posisi 46 FIFA dianggap hanya figuran dalam film yang dibintangi Bang Dodo.
Baru enam menit pertandingan berjalan, Joao Neves sukses membobol gawang Kongo lewat tandukan kepala yang indah.
Gawang Lionel Mpasi-Nzau, jebol. Gool! Lisbon langsung berguncang. Pendukung Portugal lompat-lompat seperti baru menemukan harta di kantor BGN. Fans Ronaldo di Indonesia ikut heboh. Warung kopi ramai. Grup WA CR7 berubah menjadi pusat ramalan kemenangan.
Melihat gol cepat itu, Ronaldo langsung menaikkan tenaga dalam. Jurus tendangan meteor semesta mulai dipersiapkan untuk menghancurkan pasukan Sebastien Desabre.
Namun sepak bola memang hobi membuat manusia malu. Ketika Portugal terlalu asyik menyerang, pertahanan mereka malah membuka celah. Menjelang turun minum, Yoane Wissa dengan kepalanya melancarkan Jurus Botak Menggelinding Afrika.
Braak! Gawang Diogo Costa jebol. Skor berubah 1-1.
Pendukung Portugal langsung diam. Banyak yang memegang kepala seperti mahasiswa melihat nilai skripsi. Sebaliknya, fans Kongo mulai kesurupan kegembiraan. Teriakan mereka konon hampir terdengar sampai Afrika.
Di ruang ganti, Roberto Martinez kabarnya memberi wejangan kepada sang kapten.
“Bang Dodo, ini mungkin Piala Dunia terakhirmu. Kasihan fans Indonesia kalau pulang cuma bawa hasil seri.”
“Siap, Coach!” kata Bang Dodo sambil membayangkan jurus gol penghancur alam.
Di kubu Kongo, Desabre memberi motivasi. “Jauh-jauh dari Prancis aku melatih kalian, masa pulang cuma jadi korban highlight Ronaldo?”
“Oke gas!” kata anak buahnya.
Babak kedua berubah menjadi latihan menyerang Portugal versus latihan bertahan Kongo. Portugal terus menggempur. Ronaldo dan kawan-kawan menyerang dari segala arah. Namun Kongo ternyata memasang Benteng Lima Pendekar Hitam: Tuanzebe, Kapuadi, Masuaku, Mbemba, dan Wen-Biss.
Mereka berdiri seperti tembok kerajaan yang dibangun pakai campuran semen, baja, dan doa ibu.
Lionel Mpasi-Nzau di bawah mistar gawang berubah menjadi pendekar jurus tangan seribu penyelamatan. Semua bola ditepis, ditangkap, atau diusir sejauh mungkin.
Begitu dominannya Portugal, Diogo Costa nyaris menganggur. Kalau diperbolehkan, mungkin dia sudah membuka kursi lipat dan menyeruput kopi di depan gawang.
Bola hampir terus berada di wilayah Kongo. Namun semakin diserang, benteng Afrika itu justru makin sulit ditembus.
Portugal akhirnya frustrasi. Dua kartu kuning muncul menjelang laga usai. Jurus Emosi Membara mulai keluar.
Sayangnya, gol kemenangan tak kunjung datang. Peluit panjang berbunyi. Skor tetap 1-1.
Fans Ronaldo pun kecewa karena Bang Dodo belum berhasil mengeluarkan daya magisnya. Apalagi rival abadinya, Lionel Messi, sudah lebih dulu bikin keributan dengan mencetak tiga gol.
Meski begitu, Portugal masih memimpin Grup K bersama Kongo. Bang Dodo kemungkinan masih mencari di mana jurus pamungkasnya tersimpan. Bisa jadi tertinggal di ruang ganti Houston, atau mungkin sedang menunggu update versi terbaru. Yang jelas, malam itu Jurus Gol Sakti Belum Berfungsi.
Di laga lain grup L, Inggris pesta gol usai mengalahkan Kroasia 4-2. Empat gol Inggris masing-masing dicetak Hary Kane dua gol, Bellingham, dan Rashford.***
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
