Oleh Embay Supriyantoro*
ORBITBARU.COM – Enam puluh enam tahun adalah usia yang panjang untuk ukuran sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas).
Tidak banyak Ormas di Indonesia yang mampu bertahan selama lebih dari setengah abad, apalagi tetap eksis dan dikenal lintas generasi.
Pemuda Pancasila, yang lahir pada 28 Oktober 1959, sekarang menapaki usianya yang ke-66. Ulang tahun ini bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum penting untuk merefleksi, sejauh mana kontribusi yang telah diberikan, stigma apa yang masih membayangi, dan ke mana arah langkah organisasi ini di masa depan.
Pemuda Pancasila lahir pada masa penuh gejolak politik. Di tengah ancaman ideologi komunis yang menguat, Ormas ini berdiri dengan semangat menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.
Dalam perjalanannya, Pemuda Pancasila sering disebut sebagai “garda terdepan” dalam mempertahankan negara kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) dari ancaman perpecahan.
Identitas sebagai penjaga Pancasila inilah yang menjadi fondasi moral sekaligus kebanggaan bagi kader-kadernya.
Namun, perjalanan panjang itu tidak lepas dari kontroversi. Di berbagai literatur sejarah, Pemuda Pancasila kerap dikaitkan dengan praktik kekerasan jalanan, citra premanisme, serta keterlibatan dalam politik praktis yang tidak selalu sejalan dengan nilai ideal Pancasila.
Stigma ini, bagaimanapun menjadi beban sejarah yang harus diakui dengan jujur. Sebab dari pengakuan jujur inilah jalan transformasi bisa dimulai.
Menjawab empat tantangan transformasi
Konteks bangsa Indonesia hari ini sangat berbeda dibanding era 1960-an. Ancaman ideologi tidak lagi semata-mata berupa komunisme, melainkan tantangan yang lebih kompleks: globalisasi, radikalisme agama, disrupsi teknologi, krisis kepemimpinan, hingga degradasi moral generasi muda.
Di tengah problem tersebut, Pemuda Pancasila memiliki modal besar berupa jaringan kader di seluruh nusantara. Keberadaan struktur hingga ke tingkat ranting menjadikan organisasi ini salah satu ormas dengan basis sosial terluas di Indonesia.
Potensi ini bisa menjadi kekuatan dahsyat bila diarahkan pada kegiatan produktif, antara lain pemberdayaan ekonomi, kewirausahaan, pendidikan politik yang sehat, dan program sosial yang menyentuh langsung masyarakat.
Sayangnya, potensi besar ini sering kali belum dimaksimalkan. Setidaknya ada tiga tantangan besar yang harus dijawab agar Pemuda Pancasila tetap relevan di masa depan.
Pekerjaan rumah pertama adalah mengubah persepsi publik. Di beberapa daerah, Pemuda Pancasila masih lebih dikenal karena atribut seragam dan barisan yang mengintimidasi daripada karya nyata yang dirasakan publik.
Inilah tantangan yang harus dijawab di usia ke-66: bagaimana mengubah persepsi publik dengan menghadirkan kontribusi konkret yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
Tantangan terbesar kedua yang dihadapi Pemuda Pancasila adalah regenerasi kader. Usia 66 tahun menandakan bahwa organisasi ini sudah sangat matang tetapi tanpa pembaruan, dan ini berisiko menjadi usang.
Generasi muda hari ini—khususnya milenial dan Gen Z—memiliki cara pandang berbeda terhadap organisasi. Mereka lebih kritis, terbuka, dan selektif dalam menentukan wadah bernaung.
Di titik inilah Pemuda Pancasila harus berani membuka diri. Regenerasi bukan sekadar memberi ruang kepada kader muda untuk menduduki posisi struktural, tetapi juga memberi ruang gagasan baru, kreativitas, dan inovasi.
Anak muda tidak ingin sekadar menjadi pengikut, mereka ingin menjadi agen perubahan.
Jika Pemuda Pancasila mampu menyediakan ruang itu, organisasi ini akan tetap relevan bagi generasi baru. Tetapi, jika tidak, ia berisiko ditinggalkan dan hanya menjadi simbol masa lalu.
Selain itu, kebutuhan mendesak lainnya adalah memodernisasi organisasi. Dunia telah berubah secara cepat, dan organisasi yang tidak menyesuaikan diri akan tertinggal.
Modernisasi bisa dimulai dari hal sederhana, mulai dari tata kelola organisasi yang transparan, pemakaian teknologi digital untuk komunikasi dan pendidikan kader, sehingga strategi komunikasi publik yang lebih positif.
Di era media sosial, citra organisasi ditentukan bukan hanya oleh aksi di lapangan, tetapi juga oleh narasi di ruang digital. Pemuda Pancasila harus mampu menghadirkan wajah baru yang inklusif, kreatif, dan solutif. Bukan lagi organisasi yang dikenal karena atribut seragam dan barisan, tetapi karena gagasan, karya, dan kontribusi yang nyata.
Pekerjaan rumah keempat – dan ini yang paling penting, adalah Pemuda Pancasila sering menyebut diri sebagai penjaga Pancasila. Tetapi tantangan terbesar hari ini bukan sekadar menjaga, melainkan menghidupi Pancasila.
Nilai dan semangat gotong royong, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan hanya dalam slogan.
Misalnya, gotong royong bisa diwujudkan melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.
Persatuan bisa diwujudkan dengan merangkul perbedaan dan menolak politik identitas yang memecah belah.
Keadilan sosial bisa diwujudkan dengan membela hak-hak masyarakat yang lemah.
Semua nilai itu bisa dihidupi jika Pemuda Pancasila berani menegaskan diri sebagai Ormas yang berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Ulang tahun ke-66 ini adalah momentum refleksi besar. Pemuda Pancasila harus memilih: apakah akan tetap terjebak dalam romantisme masa lalu dengan segala stigma yang melekat, atau melangkah ke depan dengan wajah baru yang lebih humanis dan bermartabat.
Bangsa Indonesia membutuhkan organisasi kepemudaan yang matang, dewasa, dan visioner. Organisasi yang tidak hanya kuat secara jumlah, tetapi juga kuat secara gagasan. Organisasi yang tidak hanya disegani, tetapi juga diteladani.
Pemuda Pancasila bisa menjadi itu semua jika berani mentransformasi. Dengan sejarah panjang, jaringan luas, dan energi pemuda, tidak ada alasan bagi organisasi ini untuk tidak menjadi kekuatan positif bagi bangsa.
Penutup
Enam puluh enam tahun adalah usia yang patut disyukuri. Banyak hal telah dicapai, tetapi lebih banyak lagi yang harus diperbaiki.
Pemuda Pancasila tidak boleh berhenti dengan kebanggaan sejarah. Justru di usia yang semakin matang, ia harus membuktikan diri sebagai organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Pancasila bukan hanya untuk dipertahankan, tetapi untuk dihidupi.
Dan, Pemuda Pancasila harus menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai itu—dengan karya nyata, keberanian moral, dan semangat pengabdian bagi bangsa.
Jika itu bisa diwujudkan, maka 66 tahun bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal babak baru menuju organisasi yang lebih relevan, berdaya, dan bermartabat.***
*Embay Supriyantoro ia mantan Sekretaris Wilayah Pemuda Pancasila Daerah Khusus Jakarta.
