Oleh Akmal Nasery Basral*
ORBITBARU.COM – Kalah di ujung pertandingan selalu menyisakan aftertaste lebih pahit dari secangkir kopi hitam tanpa gula yang menyepak telak pangkal tenggorokan.
Untungnya di dalam sepak bola, meneroka potensi pemain muda–seperti Amar Rayhan Brkic–jauh lebih penting dibanding meratapi kekalahan.
Itulah yang tersaji di Stadion Utama Sumatra Utara, Medan, Kamis 11 Juni 2026 malam, ketika Timnas Indonesia U19 harus kalah 0-1 melawan Australia.
Bagi Amar, malam itu sebenarnya adalah momen istimewa. Kamis, 11 Juni, adalah hari ulang tahunnya yang ke-19.
Begitu masuk sebagai pemain pengganti sejak awal babak kedua, Amar langsung menjadi akselerator mengubah dinamika permainan Indonesia yang sempat buntu di babak pertama.
Amar yang tumbuh dalam kerasnya sistem pembinaan usia muda di Jerman ini menunjukkan apa yang selama ini dirindukan dari seorang winger: visi, ketenangan, dan akurasi umpan-umpan panjang.
Dua umpan silangnya di kotak penalti secara teoritis bisa menjadi gol yang bisa membuat skor akhir menjadi 2-1 untuk kemenangan Indonesia.
Sayangnya, umpan matang Amar di menit ke-66 kepada penyerang Arkhan Kaka yang berada persis di depan gawang gagal menjadi gol.
Begitu juga dengan umpan terukurnya di menit ke-80 kepada Dimas Adi Prasetyo yang ada di dekat gawang Australia gagal berbuah gol.
Seandainya, ya seandainya, dua assist Amar berhasil dipungkasi Arkhan dan Dimas dengan sempurna, betapa berartinya Kamis malam itu. Timnas U-19 Indonesia melaju ke partai final, dan Amar mendapat “kado ulang tahun” yang akan menjadi kenangan indah seumur hidupnya.
Daya jelajah dan kedewasaan bermain Amar bukan tercipta instan. Lahir dan besar di Frankfurt, Jerman, Amar ditempa oleh kultur sepak bola yang menuntut kedisiplinan taktik tinggi dan fisik yang prima.
Sekarang ini, ia meniti karier bersama SV Darmstadt 98 U19, setelah sebelumnya sempat menimba ilmu dan menunjukkan bakat besarnya di akademi klub Bundesliga, TSG 1899 Hoffenheim, serta Kickers Offenbach.
Di kompetisi junior Jerman, ia terbiasa menghadapi intensitas dan tekanan tinggi, sebuah modal yang membuatnya bisa begitu tenang saat dikepung pemain-pemain Australia yang posturnya menjulang tinggi.
Namun, daya tarik Amar bukan hanya pada gocekan bolanya di lapangan hijau, melainkan juga pada latar belakangnya yang kosmopolitan.
Ia adalah perpaduan harmonis dari dua kultur dunia yang berbeda: Eropa dan Asia.
Ayahnya, Dr. Moamer Brkic, adalah seorang dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi (Orthopädie und Unfallchirurgie) berdarah Serbia.
Ibunya, Dr. Diyah Nahdiyati, Sp.A, MHBA, adalah seorang dokter spesialis anak (kinderheilkunde) dari Kebumen, Jawa Tengah.
Dr. Diyah juga aktif dalam kegiatan sosial sebagai Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya (dalam legalitas hukum Jerman terdaftar sebagai Wakil Ketua/Ketua di Muhammadiyah Deutschland e.V. yang berkedudukan di Frankfurt am Main).
Kombinasi latar belakang orang tua yang profesional medis tingkat tinggi ini menjelaskan mengapa Amar tumbuh menjadi atlet yang memiliki disiplin mental baja, nutrisi yang terjaga, dan pemahaman sportivitas yang matang sejak dini.
Melihat penampilan Amar semalam, rasanya tidak terlalu muluk jika fans sepak bola Indonesia mulai memprediksi tentang kapan Amar akan berseragam Timnas Senior. Sebab, jalan menuju ke sana sudah tidak lagi utopis, melainkan semakin realistis.
Kita baru saja menyaksikan Matthew Ryan Sitorus Baker, bek serba bisa yang baru berusia 17 tahun—berdarah blasteran ayah Australia dan ibu Batak secara mengejutkan diberi kepercayaan penuh oleh pelatih kepala John Herdman untuk menajalani debutnya di Timnas Senior Indonesia dalam laga FIFA Match Day melawan Oman pekan lalu.
Di bawah arahan John Herdman yang dikenal jeli melihat potensi pemain muda berbakat tanpa pandang bulu, peluang Amar terbuka lebar.
Jika Matt Baker yang berusia lebih muda saja mampu menembus sekat senioritas berkat kematangan bermainnya, Amar Brkic—dengan visi bermain standar Eropa dan akurasi crossing yang mengagumkan—hanya tinggal menunggu waktu untuk dipanggil Herdman ke skuad utama Garuda.
Menariknya, cerita keluarga Brkic untuk sepak bola Indonesia tidak berhenti pada diri Amar.
Di masa depan, Indonesia mungkin akan menyaksikan “Brkic Bersaudara” menggalang kekuatan di atas lapangan hijau membela Merah Putih di panggung sepak bola dunia karena adik Amar yang bernama Said Ahmed Brkic, mengikuti jejak kakaknya. Said terpilih masuk skuad Timnas Indonesia U15.
Bedanya di lapangan, jika Amar beroperasi di lini depan untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan, Said diproyeksikan untuk menjadi benteng atau pengatur ritme permainan.
Kehadiran Said menegaskan bahwa komitmen dua pesepakbola muda berdarah Indonesia ini untuk merajut prestasi bersama Merah Putih bukanlah mimpi di siang bolong, melainkan sebuah dedikasi jangka panjang yang butuh kesabaran dan dukungan seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.
Kekalahan dari Australia di Medan mungkin terasa menyakitkan bagi pecinta sepak bola tanah air karena terjadi menjelang akhir pertandingan.
Namun, jika kekalahan itu adalah harga yang harus dibayar untuk melihat kematangan seorang Amar Brkic membongkar pertahanan Australia–salah satu raksasa sepak bola di Asia-Oseania–maka masa depan sepak bola Indonesia jelas ada di tangan–atau di kaki– yang tepat.
Selamat ulang tahun ke-19, Amar.
Kepakkan sayap garudamu lebih keras lagi setelah ini. Gaya permainanmu sebagai winger kreatif dan versatile (serba bisa) seperti Ragnar “Wak Haji” Oratmangoen, membuat peluangmu masuk Timnas senior terbuka lebar.
Yakinlah!***
*Akmal Nasery Basral ialah fans Timnas Indonesia, sosiolog, prosaic penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Nasional
Tanggapan, masukan, dan koreksi atas tulisan ini bisa dikirimkan melalui email: [email protected]
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
