Madiun jadikan Rutan Belanda tempat penahanan Tan Malaka sebagai destinasi wisata

3 Juli 2026, 06:13 WIB
0 Komentar

ORBITBARU.COM – Pemerintah Kota Madiun akan menjadikan rumah tahanan (Rutan) militer semasa kolonial Belanda tempat penahanan pejuang Tan Malaka dan Sutan Sjahrir sebagai destinasi wisata sejarah.

Rumah tahanan militer di Jalan Ahmad Yani itu mulai dibersihkan lewat kerja bakti yang melibatkan ratusan personel Pemerintah Kota Madiun dan TNI.

Menurut Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, rumah tahanan tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi ini, karena pernah dipakai untuk menahan peuang dan pahlawan nasional Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.

“Tempat ini berpotensial mendatangkan wisatawan,” katanya.

Ia merencanakan, rumah tahanan  tersebut akan dikembangkan menjadi satu kesatuan destinasi wisata sejarah yang saling terhubung di Kota Madiun.

Ia menambahkan bahwa rumah tahanan ini akan menjadi bagian dari kawasan walking tour heritage yang menghubungkan bangunan bersejarah di Kota Madiun, seperti Balai Kota Madiun, Bakorwil, Gereja Santo Cornelius, dan SD Santo Bernardus.

Bangunan rumah tahanan itu akan dipugar dengan tetap mempertahankan karakter aslinya.

Tentang Tan Malaka

Tan Malaka yang lahir di Sumatra Barat 1897 ialah pemikir revolusioner dan pejuang kemerdekaan.

Ia orang pertama yang menggagas konsep Republik Indonesia.

Dikenal karena pemikirannya yang kritis, ia hidup dalam pelarian, memakai banyak nama samaran, dan meninggal dieksekusi tanpa pengadilan pada tahun 1949.

Berikut adalah ringkasan perjalanan dan warisan pemikiran Tan Malaka:

  1. Julukan dan gagasan negara

Julukan Bapak Republik Indonesia diberikan karena ia menerbitkan buku “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan.

Buku tersebut menjadi cetak biru bagi konsep negara Indonesia merdeka.

  1. Tokoh pendidikan dan pemikiran kritis

Lulusan sekolah guru di Belanda ini sangat meyakini bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan.

Ia menulis karya filosofis monumental berjudul Madilog (materialisme, dialektika, dan logika).

Buku ini bertujuan untuk mengubah cara berpikir masyarakat dari mistis dan feodal ke arah yang lebih rasional, kritis, dan ilmiah.

  1. Tokoh bawah tanah yang radikal

Tan Malaka menentang keras taktik diplomasi oleh pemerintah Soekarno-Hatta kepada Belanda.

Ia lebih memilih perlawanan tanpa kompromi. Akibat perbedaan ideologi dan taktik politik ini, ia membentuk Persatuan Perjuangan dan Partai Murba, serta sering diasingkan baik oleh pemerintah kolonial maupun oleh rezim yang berkuasa di awal kemerdekaan.

  1. Akhir hayat

Ia meninggal dunia pada 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, setelah dieksekusi oleh militer Republik Indonesia.

Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963.

Tentang Sutan Sjahrir

Sutan Syahrir ialah salah satu bapak bangsa, intelektual, dan diplomat ulung yang menjabat sebagai Perdana Menteri Pertama Indonesia yang lahir 5 Maret 2909 di Padang Panjang, Sumatra Barat.

Dijuluki “Bung Kecil”, ia adalah pahlawan nasional yang lebih mengutamakan strategi diplomasi dan perundingan daripada angkat senjata.

Berikut beberapa peran dan fakta penting mengenai Sutan Syahrir:

Perdana Menteri Termuda: Ia diangkat menjadi Perdana Menteri pada 14 November 1945 dalam usia 36 tahun.

Diplomat ulung: Syahrir adalah tokoh utama yang memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia melalui perundingan damai, seperti Perundingan Linggarjati dan tampil berpidato di Sidang Dewan Keamanan PBB.

Tokoh bawah tanah: Semasa pendudukan Jepang, ia memimpin gerakan bawah tanah dan menjadi salah satu tokoh yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Pemikir dan ideolog: Ia mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan dikenal dengan pemikirannya yang demokratis serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kecerdasan.***

Terkait