Oleh Teguh Anantawikrama*
ORBITBARU.COM – Ketika perang di Timur Tengah makin meluas, rantai pasok global terus terfragmentasi, dan persaingan antarkekuatan besar berlangsung melalui tarif, sanksi, serta kebijakan moneter yang ketat, satu kenyataan menjadi semakin jelas.
Dunia sedang memasuki era di mana stabilitas telah menjadi komoditas yang langka.
Dalam situasi seperti ini, negara yang mampu menyediakan ketahanan—bukan sekadar pertumbuhan—akan menjadi semakin bernilai.
Dan Indonesia memiliki modal itu.
Diskusi terbaru antara Bank Indonesia dan KADIN Indonesia memperlihatkan gambaran yang sangat berbeda dari berbagai narasi pesimistis yang beredar di pasar global.
Ketika ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen, inflasi global masih tinggi, dan modal terus mencari aset-aset safe haven, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap bertumbuh di kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat serta investasi yang tetap sehat.
Ini bukan kebetulan.
Ini adalah hasil dari pembangunan institusi selama puluhan tahun, disiplin kebijakan makroekonomi, dan filosofi pembangunan yang lebih mengutamakan ketahanan dibanding pertumbuhan yang berlebihan.
Stabilitas telah menjadi aset strategis
Banyak negara mengejar pertumbuhan dengan segala cara.
Indonesia memilih jalan yang berbeda.
Inflasi tetap terjaga di sekitar 3 persen. Cadangan devisa mendekati 145 miliar dola AS. Defisit transaksi berjalan masih terkendali. Sistem perbankan memiliki permodalan yang kuat dengan rasio kredit bermasalah yang rendah.
Angka-angka tersebut bukan sekadar indikator ekonomi.
Semuanya adalah mekanisme pertahanan nasional.
Karena di abad ke-21, kedaulatan ekonomi tidak lagi hanya dijaga oleh tank dan rudal.
Ia dijaga oleh institusi keuangan yang sehat, kebijakan moneter yang kredibel, konsumsi domestik yang kuat, serta kepercayaan pasar terhadap institusi negara.
Karena itu, Bank Indonesia memilih pendekatan yang seimbang.
Stabilitas rupiah dijaga.
Inflasi dikendalikan.
Namun pada waktu yang sama, pertumbuhan ekonomi tetap didorong melalui berbagai instrumen makroprudensial, ekspansi kredit, digitalisasi sistem keuangan, dan pembiayaan sektor produktif.
Tujuannya bukan sekadar bertahan melewati tahun 2026.
Tujuannya adalah keluar dari periode turbulensi global ini dalam kondisi yang lebih kuat.
Peran Indonesia lebih besar dari sekadar Indonesia
Perekonomian dunia semakin terbelah ke dalam berbagai blok.
Rantai pasok global sedang disusun ulang.
Ketahanan energi telah berubah menjadi isu geopolitik.
Dan dunia sedang mencari mitra yang dapat dipercaya.
Dalam konteks tersebut, peran Indonesia jauh melampaui Asia Tenggara.
Sebagai ekonomi terbesar ASEAN, anggota BRICS, serta negara yang secara konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, Indonesia menempati posisi yang sangat langka.
Indonesia dipercaya oleh Timur dan Barat.
Indonesia menjaga hubungan dengan seluruh kekuatan besar tanpa menjadi bagian dari salah satunya.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, netralitas strategis bukanlah sikap pasif.
Netralitas strategis adalah sumber daya.
Ia adalah leverage.
Posisi inilah yang memungkinkan Indonesia menjadi:
* jangkar stabilitas ASEAN;
* jembatan antara negara maju dan negara berkembang;
* tujuan investasi jangka panjang yang terpercaya;
* sekaligus salah satu suara utama Global South.
Ketahanan adalah mata uang baru
Ada masa ketika kecepatan pertumbuhan menjadi segalanya.
Namun ada pula masa ketika daya tahan menjadi lebih penting.
Dan sekarang ini adalah salah satu masa tersebut.
Masalah terbesar dunia bukanlah kekurangan modal.
Masalah terbesar dunia adalah kekurangan kepercayaan.
Dan kepercayaan selalu mengikuti stabilitas.
Indonesia memiliki bonus demografi.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis.
Indonesia memiliki institusi yang semakin matang.
Tetapi mungkin aset terbesar kita justru sesuatu yang tidak terlihat.
Kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai.
Bauran kebijakan Bank Indonesia mencerminkan filosofi tersebut.
Stabilitas dijaga.
Sektor produktif terus memperoleh dukungan.
Likuiditas diperkuat.
Digitalisasi keuangan dipercepat.
Pembiayaan proyek strategis terus dikawal.
Ini bukan perilaku negara yang sedang menghadapi krisis.
Ini adalah perilaku negara yang sedang mempersiapkan kepemimpinan.
Dari negara tangguh menjadi jangkar dunia
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak lahir karena berhasil menghindari badai.
Mereka menjadi besar karena belajar menavigasi badai.
Ketidakpastian global mungkin masih akan berlangsung.
Konflik geopolitik dapat terus berlanjut.
Harga energi akan tetap berfluktuasi.
Kondisi keuangan global mungkin akan tetap ketat.
Namun di tengah semua ketidakpastian tersebut, Indonesia sedang menghadapi sebuah peluang yang mungkin hanya datang sekali dalam satu generasi.
Kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar ekonomi yang tumbuh cepat.
Kesempatan untuk menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.
Menjadi jangkar kepercayaan.
Menjadi mitra yang tidak tergantikan.
Menjadi kekuatan Global South yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, ekspor terpenting Indonesia bukan hanya nikel, batu bara, minyak sawit, atau komoditas lainnya.
Ekspor terbesar Indonesia adalah kepercayaan.
Dan di abad ke-21, ketahanan adalah mata uang baru.
Indonesia telah mengumpulkannya secara diam-diam selama puluhan tahun.
Dan mungkin, inilah saatnya dunia mulai menyadarinya.***
*Teguh Anantawikrama ialah Ketua Umum Gerakan Nasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bangkit
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
